Skip to main content

They are pure...

Artikel yang saya temukan di sosial media ini semoga bisa bermanfaat untuk para orang tua, untuk lebih menyadari lagi arti kehadiran anak-anak kita...


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
KITA BERHUTANG KEPADA ANAK-ANAK KITA

Kita selalu berhutang banyak cinta kepada anak-anak. Tidak jarang, kita memarahi mereka saat kita lelah. Kita membentak mereka padahal mereka belum benar-benar paham kesalahan yang mereka lakukan. Kita membuat mereka menangis karena kita ingin lebih dimengerti dan didengarkan. Tetapi seburuk apapun kita memperlakukan mereka, segalak apapun kita kepada mereka, semarah apapun kita pernah membentak mereka... Mereka akan tetap mendatangi kita dengan senyum kecilnya, menghibur kita dengan tawa kecilnya, menggenggam tangan kita dengan tangan kecilnya... Seolah semuanya baik-baik saja, seolah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya... Mereka selalu punya banyak cinta untuk kita, meski seringkali kita tak membalas cinta mereka dengan cukup.

Kita selalu berhutang banyak kebahagiaan untuk anak-anak kita. Kita bilang kita bekerja keras demi kebahagiaan mereka, tetapi kenyataannya merekalah yang justru membahagiakan kita dalam lelah di sisa waktu dan tenaga kita. Kita merasa bahwa kita bisa menghibur kesedihan mereka atau menghapus air mata dari pipi-pipi kecil mereka, tetapi sebenarnya kitalah yang selalu mereka bahagiakan... Merekalah yang selalu berhasil membuang kesedihan kita, melapangkan kepenatan kita, menghapus air mata kita.

Kita selalu berhutang banyak waktu tentang anak-anak kita. Dalam 24 jam, berapa lama waktu yang kita miliki untuk berbicara, mendengarkan, memeluk, mendekap, dan bermain dengan mereka? Dari waktu hidup kita bersama mereka, seberapa keras kita bekerja untuk menghadirkan kebahagiaan sesungguhnya di hari-hari mereka, melukis senyum sejati di wajah mungil mereka?

Tentang anak-anak, sesungguhnya merekalah yang selalu lebih dewasa dan bijaksana daripada kita. Merekalah yang selalu mengajari dan membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik setiap harinya. Seburuk apapun kita sebagai orangtua, mereka selalu siap kapan saja untuk menjadi anak-anak terbaik yang pernah kita punya.

Kita selalu berhutang kepada anak-anak kita... Anak-anak yang setiap hari menjadi korban dari betapa buruknya cara kita mengelola emosi. Anak-anak yang terbakar residu ketidakbecusan kita saat mencoba menjadi manusia dewasa. Anak-anak yang menanggung konsekuensi dari nasib buruk yang setiap hari kita buat sendiri. Anak-anak yang barangkali masa depannya terkorbankan gara-gara kita tak bisa merancang masa depan kita sendiri.

... Tetapi mereka tetap tersenyum, mereka tetap memberi kita banyak cinta, mereka selalu mencoba membuat kita bahagia.

Maka dekaplah anak-anakmu, tataplah mata mereka dengan kasih sayang dan penyesalan, katakan kepada mereka, "Maafkan untuk hutang-hutang yang belum terbayarkan... Maafkan jika semua hutang ini telah membuat Tuhan tak berkenan. Maafkan karena hanya pemaafan dan kebahagiaan kalianlah yang bisa membuat hidup ayah dan ibu lebih baik dari sebelumnya... Lebih baik dari sebelumnya."

Melbourne, 22 Februari 2015

FAHD PAHDEPIE

Comments

Popular posts from this blog

Blessings in Disguise (Part 1) - Convincing Myself

Perjalanan itu masih terasa bagaikan mimpi, benar-benar tidak pernah menyangka sebelumnya, Allah mengubah hari saya yang paling menyedihkan pada tanggal 3 Agustus 2021, saat saya harus kehilangan sesosok wanita yang luar biasa, yang telah berjuang melahirkan saya, mengenalkan saya pada dunia, wanita yang dengan lelah dan jerih payah mendidik dan membesarkan saya, seseorang yang paling memahami saya lebih dari siapapun, seseorang yang doa-doanya selama ini sangat berarti untuk kehidupan saya, Mama... seseorang yang ternyata mengantarkan saya untuk menerima kado terindah seumur hidup saya dari Allah pada hari ulang tahun saya pada 26 Juni 2025 lalu. Ya Allah... Subhanallah, walhamdulillah, wala'ilaha'ilallah wallahuakbar... Mohon berikan tempat terindah untuk mamaku Ipah Gamar Binti Hamid Muhammad Alaydrus ya Allah, ampuni segala dosa-dosanya, jauhkanlah beliau dari siksa kubur dan api neraka, terimalah Badal Haji beliau, tempatkan beliau di surgaMu yang terindah ya Allah... Aami...

Blessings in Disguise (Part 2) - The Hardest Part

Makin deg-degan rasanya keberangkatan itu semakin dekat... Banyak persiapan yang sudah saya lakukan, seperti belanja pernak pernik kebutuhan haji, mengambil koper besar dan kecil di PLHUT, mengurus Badal Haji mama, sampai gathering calon jama'ah haji di Magelang. Meski begitu selalu rasanya masih ada saja yang belum atau kurang, mengurus ATM VISA saja juga belum sempat saya lakukan, padahal saya hanya memiliki uang SAR (Riyal) sedikit itupun terima kasih sekali sudah sangat terbantu teman kantor yang orangtuanya tahun lalu pergi haji dan masih mempunyai sisa uang SAR. Dua minggu sebelum keberangkatan, tiba saatnya kami menghadiri manasik terakhir di KBIHU yaitu pelepasan calon jama'ah haji. Disana, kami mendapatkan tanda identitas KBIHU, tanda identitas koper besar dan kecil dengan nama kami, tas ransel, sampai mendaftarkan paket internet untuk selama di tanah suci. Kami berkumpul dengan regu masing-masing untuk berkoordinasi karena kemungkinan kami akan menjadi satu kamar atau...

Life was much easier when Apple and Blackberry were just fruits ;)

Pernah membaca tulisan kocak seperti judul di atas di sebuah sosial media, dan mungkin hal itu tidak berlaku untuk sebagian orang, karena 'buah-buahan' itu sudah menjadi 'passion' mereka :D Tidak usah mengulas panjang lebar tentang buah-buahan itu, cukup konsumsi saja setiap hari untuk 'lebih sehat' pastinya, hehehehe ;) Nah, apa yang terjadi jika 'buah-buahan' itu dan teman-temannya dikonsumsi secara berlebihan? Jawabannya bisa kita lihat, amati dengan santaiiiii di sekitar kita ;) Tengok kanan, tengok kiri, depan dan belakang, apa yang orang-orang pegang di tangannya sehingga mereka lupa di sekitar mereka ada orang yang dekat dan nyata? Dari muda sampai tua semuanya doyan 'buah-buahan' itu, bahkan tanpa dikunyah :D :D Bagaimana mau mengunyah, karena asyiknya sampai kadang lupa waktu, dibuat lumrah sajalah, kita hidup di era digital, di mana setiap orang sekarang tidak bisa hidup tanpa 'buah-buahan' itu... Era komunikasi tela...