Skip to main content

Gadget Slavery

Sore yang santai, langit mendung, mengobrol dengan suami, terbawa suasana saat masih tinggal di Jogja dulu...

(jeda waktu menulis karena fokus dengan obrolan sore... obrolan mengenai efek gadget)

Musim hujan di Jogja waktu itu, kami tinggal di rumah mungil kontrakan sederhana tanpa perabot apapun kecuali peralatan dapur, mandi, kasur dan monitor komputer berfungsi ganda sebagai komputer dan TV. Tidak ada meja, kursi, padahal saat itu saya sedang hamil anak pertama, tidur di kasur tanpa tempat tidur, nonton TV selalu duduk di karpet... Tapi itu semuanya terasa menyenangkan dan damai, kadang kangen dengan suasana itu...

Bukan tidak mensyukuri apa yang sudah diberikanNya sekarang. Hal yang saya rindukan adalah kesederhanaan, hidup apa adanya, menikmati waktu di dunia nyata dengan damai tanpa ada ketergantungan dengan internet, yah walau sekedar ngecek email, facebook, browsing pengetahuan, dan banyak lagi hal positif yang selalu membuat saya jadi sering on di depan gadget, dan rakus saat membuka browser internet... Rasanya banyaaaaaaak sekali informasi yang bermanfaat, materi yang harus saya download untuk diri sendiri maupun keperluan mengajar... Dan itu sudah jadi kebutuhan sehari2 saya, seperti yang terjadi malam ini saat semuanya sudah terlelap, saya masih setia dengan gadget ini, menikmati jemari menari2 di atas keyboard...

Delapan tahun lalu saat saya masih tinggal di Jogja, sebagai ibu rumah tangga murni dan hamil anak petama, teknologi belum menjamur seperti saat ini, yang hampir semua orang yang saya lihat selalu sibuk dengan gadget mereka... Silakan baca blog ini tentang perbudakan gadget :)

Saya ingat waktu itu hiburan saya hanya TV di sela2 pekerjaan rumah, mengobrol santai dengan tetangga (tapi jarang, karena sering berbeda topik pembicaraan) dan paling mentok jalan2 dengan suami sekedar muter2, ingin makan di luar atau ke pusat perbelanjaan membeli kebutuhan, pun begitu rasanya damaaaaaai sekali meski tanpa gadget di tangan...

Sekarang banyak hal yang berubah, saya bukan ibu rumah tangga murni lagi, saya adalah seorang guru dan sudah menjadi seorang ibu dua anak perempuan yang sudah mulai belajar di SD dan TK, yang itu berarti mereka mulai belajar sosialisasi mengenal berbagai karakter orang lain.

Ya, belajar sosialisasi itu sangat penting menurut saya, karena kesuksesan pribadi ditentukan dari bagaimana dia bisa membawa dirinya dengan baik, dan itu dimulai dari keluarga, dari pendidikan dan keteladanan yang diberikan orang tua sebagai dasar, yang kemudian diasah di sekolah dan masyarakat.

Hal yang saya lihat sekarang ini, banyak sekali anak2 yang sudah akrab dengan gadget mereka, yang entah alasan orang tua mereka apa, saya tidak begitu paham, yang jelas masing2 orang tua pasti mempunyai maksud dan tujuan yang terbaik untuk anak2 mereka.

Bagi saya, gadget belum selayaknya diberikan ke anak, bahkan anak seusia SMA pun terkadang masih belum bisa memanfaatkan gadget dengan bijak... Terbukti dengan pengalaman saya waktu menjadi guru d SMK, saat suatu periode kami sengaja merazia handphone mereka dan memeriksa isinya, sangat mengejutkan (mungkin bagi bangsa lain, dalam hal ini teman saya dari Brazil yang menjadi partner pertukaran budaya di SMK, pernah mengatakan bahwa hal ini wajar, saat kita meneukan konten dewasa di handphone anak berusia 17 tahun ke atas).

Bisa dibayangkan saja anak2 SMK saja belum bisa menggunakan dengan bijak, lalu bagaimana dengan anak2 yang usianya jauh lebih muda? Padahal handphone jaman sekarang dengan mudahnya google diakses, dan siapa yang bisa menjamin gambar/kontennya bebas dari hal2 yang belum selayaknya anak melihat? Bukan di google saja, saya buka facebook, di komentar2 suatu grup (grup komunitas belajar, grup guru, dan grup2 lain yang berbau pendidikan yang saya ikuti) ada komentar berupa link video porno disertai previewnya yang sangat amat mengganggu pemandangan dan sangat amat merusak pikiran anak)

Bukan hanya pornografi, kejahatan internet (cyber crime) sekarang sangat mengerikan. Kita tidak mungkin melarang anak untuk tidak menggunakan internet, tetapi pengendalian itu harus kita ciptakan sejak dini, sejak anak2 kita masih kecil. Kita harus menanamkan konsep kepada anak bahwa internet bisa sangat bermanfaat dan membantu jika kita memanfaatkan untuk hal yang positif. sebaliknya, internet akan menjatuhkan kita jika kita tidak bisa memanfaatkannya dengan bijak...

Tidak mungkin kita menyaring apa yang bisa diberikan oleh internet untuk anak2 kita, tapi anak2 harus paham bahwa 'saringan' itu ada di kepala dan hati mereka...

Mari lebih peduli lagi dengan anak2 kita. Jangan hanya karena perkembangan jaman saja, atau sebagai hiburan karena telah meninggalkan anak2 seharian bekerja, lalu kita mengijinkan anak2 kita, bahkan menyediakan gadget untuk mereka. Terkadang orang tua juga merasa tidak tega melihat anak2 mereka 'ketinggalan' dengan teman2 mereka yang sudah akrab dan asyik dengan gadget mereka, yang setiap hari teman2 mereka mengobrolkan hal2 yang terkait game, social media...

Memang tidak mudah, tapi mencoba berpikir bahwa jika kita tidak lebih peduli, alih2 membuat anak2 kita tidak ketinggalan jaman, justru malah membuat mereka ketergantungan dengan gadget dan parahnya mereka tidak bisa peka dengan lingkungan mereka, tidak tanggap, tidak sociable, menjadi anak yang gaul di dunia maya tetapi di dunia nyata justru sebaliknya, naudzubiillah...

Tulisan ini menjadi peringatan untuk diri saya sendiri juga...

Gadget sudah menggantikan fungsi kamera, kalender, radio, komputer, dan masih banyak lainnya. jangan sampai gadget juga menggantikan kehangatan keluarga kita... Bukan pemandangan yang asing ketika berada di tempat umum kita melihat keluarga di restaurant, si ibu asyik bbm an, bapak whatsapp an, si anak ngegame sendiri. Pernah juga melihat sekumpulan anak2 SD, ya mereka berkumpul, dengan gadget di tangan masing2, lalu apa gunanya mereka berkumpul?

Berikut tulisan yang saya kutip dari facebook Komunitas Ayah Edy,

Bolehkah anak ABG memiliki ponsel pribadi?

Airin pusing. Belakangan ini Andi, putranya yang duduk di kelas 1 SMP merongrong terus.

“Bunda, beliin Andi Hp dooong.. Kapan nih, Andi boleh bawa Hp?”
“Duuh, memang buat apa sih, Ndi? Kan ada telepon rumah. Kalau mau menelepon teman, ya pakai telepon rumah saja.”

“Yaaa buat macam-macam. Kalau Andi sedang main di luar atau di sekolah, lalu perlu perlu nelepon Bunda, gimana?”
“Ah, alasan aja.”

“Bunda bohong ih. Dulu Bunda bilang, kalau Andi sudah SMP boleh bawa Hp...”

“Hmmm..”

Andi benar. Dahulu, waktu Andi masih SD, Airin berjanji akan membelikannya ponsel ketika Andi sudah SMP. Namun sekarang Airin ragu-ragu. Apakah bijaksana bila ia memberikan ponsel Andi? Airin tahu, banyak teman Andi yang sudah menenteng ponsel atau tablet ke mana-mana. Ia khawatir, ponsel pribadi akan membuat Andi lebih mudah tergelincir hal-hal yang tidak baik.

Apalagi, smartphone sekarang canggih-canggih. Fungsi ponsel bukan lagi untuk menelepon atau mengirim pesan, tapi juga mengirim gambar dan foto, browsing internet, nonton video, main game, merekam audio dan video, eksis di sosmed dan banyak lagi.

Bagaimana kalau teman-temannya malah mengirimi Andi foto atau video yang tidak-tidak? Bagaimana kalau Andi kecanduan smartphone dan tak peduli sekitarnya? Bagaimana kalau Andi dipalak atau dicopet karena membawa smartphone mahal? Haduuuh...

Ayah Edy, apakah anak remaja ABG sudah boleh membawa ponsel sendiri?

Jawaban Ayah Edy:

Ayah Bunda yang baik
Di Indonesia, aturan main gadget kurang disosialisasikan. Jenis gadget sangat beragam dan spesifikasinya berlainan. Ada gadget dengan spesifikasi untuk para eksekutif, pengusaha, orang pemasaran, desainer... Seharusnya, kita memilih gadget yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kalau kita cuma perlu untuk menelepon dan mengirim SMS, ya belilah ponsel dengan fungsi sederhana.

Namun kita merasa bangga bila memiliki benda canggih. Padahal mungkin kita tidak butuh. Kini banyak anak SD dan SMP yang sudah dibelikan smartphone canggih yang bisa ini itu. Anak-anak itu lalu membawa smartphone-nya ke sekolah, lalu terjadilah peer pressure (tekanan dari teman sebaya). Anak-anak lain yang tidak memiliki smartphone jadi merengek pada orangtuanya untuk membelikan mereka juga. Guru-guru lengah terhadap fenomena ini, sehingga tidak mengantisipasi.

Jadi problemanya adalah gadget tidak tepat sasaran. Sama seperti obat, ada dosis untuk bayi, anak-anak dan dewasa. Jika kita tak paham, kita bisa memberi dosis orang dewasa pada bayi. Akibatnya, obat yang seharusnya menyembuhkan malah berubah menjadi racun.

Memberikan gadget pada anak boleh-boleh saja, tapi berikanlah sesuai dosis. Jangan overdosis. Jika anak SMP hanya memerlukan ponsel untuk berkomunikasi, jadi cukup belikan mereka ponsel sederhana untuk menelepon dan mengirim pesan. Tidak perlu membelikan smartphone canggih seharga 10 juta rupiah. Kalau mereka sesekali perlu mengirim foto atau gambar pada teman, toh mereka bisa mengaktifkan komputer dan mengirim via email. Jadi manfaat ponsel tidak kita hilangkan, tapi jangan sampai overdosis.

Ini juga saya terapkan pada diri saya sendiri. Sampai sekarang, saya masih setia menggunakan ponsel dengan fungsi sederhana. Yang penting, saya bisa berkomunikasi dengan orang-orang: menelepon dan mengirim SMS. Kadang-kadang ada yang bertanya, ‘masa Ayah Edy tidak punya BB?’. Namun saya merasa ponsel yang saya pakai sekarang sudah sangat cukup.

Bagaimanapun, bila seseorang mendapat fasilitas tapi sebenarnya tak ada kebutuhan, dia akan mengada-adakan kebutuhan. Akibatnya, smartphone yang spesifikasinya untuk para desainer agar memudahkan mereka mengirim foto desainnya, jadi berubah fungsi untuk mengirim yang tidak seharusnya. Inilah yang harus dihindari, khususnya pada anak-anak remaja kita.

Di petik dari kasus dalam buku Ayah Edy Menjawab Problematika Orang Tua ABG dan Remaja.

Gadget mendekatkan yang jauh, tetapi menjauhkan yang dekat...

Cobalah berhenti sejenak di depan gadget, lihat keluar, nikmati pemandangan sekitar :)

Semoga bermanfaat :)

Comments

Popular posts from this blog

Blessings in Disguise (Part 1) - Convincing Myself

Perjalanan itu masih terasa bagaikan mimpi, benar-benar tidak pernah menyangka sebelumnya, Allah mengubah hari saya yang paling menyedihkan pada tanggal 3 Agustus 2021, saat saya harus kehilangan sesosok wanita yang luar biasa, yang telah berjuang melahirkan saya, mengenalkan saya pada dunia, wanita yang dengan lelah dan jerih payah mendidik dan membesarkan saya, seseorang yang paling memahami saya lebih dari siapapun, seseorang yang doa-doanya selama ini sangat berarti untuk kehidupan saya, Mama... seseorang yang ternyata mengantarkan saya untuk menerima kado terindah seumur hidup saya dari Allah pada hari ulang tahun saya pada 26 Juni 2025 lalu. Ya Allah... Subhanallah, walhamdulillah, wala'ilaha'ilallah wallahuakbar... Mohon berikan tempat terindah untuk mamaku Ipah Gamar Binti Hamid Muhammad Alaydrus ya Allah, ampuni segala dosa-dosanya, jauhkanlah beliau dari siksa kubur dan api neraka, terimalah Badal Haji beliau, tempatkan beliau di surgaMu yang terindah ya Allah... Aami...

Blessings in Disguise (Part 2) - The Hardest Part

Makin deg-degan rasanya keberangkatan itu semakin dekat... Banyak persiapan yang sudah saya lakukan, seperti belanja pernak pernik kebutuhan haji, mengambil koper besar dan kecil di PLHUT, mengurus Badal Haji mama, sampai gathering calon jama'ah haji di Magelang. Meski begitu selalu rasanya masih ada saja yang belum atau kurang, mengurus ATM VISA saja juga belum sempat saya lakukan, padahal saya hanya memiliki uang SAR (Riyal) sedikit itupun terima kasih sekali sudah sangat terbantu teman kantor yang orangtuanya tahun lalu pergi haji dan masih mempunyai sisa uang SAR. Dua minggu sebelum keberangkatan, tiba saatnya kami menghadiri manasik terakhir di KBIHU yaitu pelepasan calon jama'ah haji. Disana, kami mendapatkan tanda identitas KBIHU, tanda identitas koper besar dan kecil dengan nama kami, tas ransel, sampai mendaftarkan paket internet untuk selama di tanah suci. Kami berkumpul dengan regu masing-masing untuk berkoordinasi karena kemungkinan kami akan menjadi satu kamar atau...

Life was much easier when Apple and Blackberry were just fruits ;)

Pernah membaca tulisan kocak seperti judul di atas di sebuah sosial media, dan mungkin hal itu tidak berlaku untuk sebagian orang, karena 'buah-buahan' itu sudah menjadi 'passion' mereka :D Tidak usah mengulas panjang lebar tentang buah-buahan itu, cukup konsumsi saja setiap hari untuk 'lebih sehat' pastinya, hehehehe ;) Nah, apa yang terjadi jika 'buah-buahan' itu dan teman-temannya dikonsumsi secara berlebihan? Jawabannya bisa kita lihat, amati dengan santaiiiii di sekitar kita ;) Tengok kanan, tengok kiri, depan dan belakang, apa yang orang-orang pegang di tangannya sehingga mereka lupa di sekitar mereka ada orang yang dekat dan nyata? Dari muda sampai tua semuanya doyan 'buah-buahan' itu, bahkan tanpa dikunyah :D :D Bagaimana mau mengunyah, karena asyiknya sampai kadang lupa waktu, dibuat lumrah sajalah, kita hidup di era digital, di mana setiap orang sekarang tidak bisa hidup tanpa 'buah-buahan' itu... Era komunikasi tela...