Skip to main content

Dia Menyapaku... (Part 2)

Pagi itu, Sabtu 16 Januari 2021, alhamdulillah masa karantinaku selesai. Aku bangun pagi sangat bersemangat, hari itu aku akan mengganti seprei hahahaha... Sudah tidak sabar semprot2 ruangan kamar dan bersih2 rumah berharap semua virusnya mati. Aku masih merasakan sedikit keraguan pada hari itu. Aku berniat meminta surat keterangan selesai karantina dari puskesmas tempat aku melakukan swab. 

Pada hari itu juga aku berniat memantabkan hati untuk melakukan swab lagi untuk mengetahui secara pasti bahwa aku sudah sembuh, karena hari itu aku akan menerima surat kebebasanku... My freedom... wkwkwkwk setelah sekian lama tidak bisa memeluk anak-anakku, selama karantina hanya bisa memandang mereka dari jauh... Anakku yang kecil sempat menangis karena ini. Sedih sekali... Ketika di rumah sendiri aku masih harus memakai masker terus... Hanya aku lepas saat di kamar sendirian... Ketika aku harus mencuci pakaianku dengan terpisah, sama saat aku mencuci pakaian ayahku dari RS. Aku diamkan beberapa lama dulu (karena aku pernah mendapat informasi bahwa virus akan mati setelah beberapa jam menempel di permukaan benda mati dan tidak mendapatkan inang makhluk hidup, lalu pakaian aku guyur dengan air panas dan baru dicuci seperti biasa). Saat aku hanya bisa menyibukkan diri di kamar sendirian tidak lagi bisa melihat dunia luar menghirup udara segar hanya saat berjemur di depan rumah, takut tetangga pada parno melihatku hahahaha sama seperti saat aku melihat tetanggaku yang positive Covid-19 sedang berjemur sih waktu itu. Aku hanya bisa galau di depan laptop dan HP. Badan sakit semuanya juga tidak ada yang bisa mijitin... Benar2 hari-hari yang berat...

Pagi itu, aku disambut dengan bau aroma tidak sedap dari got lingkungan rumah, yang selama ini sudah tidak pernah aku hirup lagi karena menderita anosmia. Aku tanyakan ke suamiku apakah memang baunya seperti itu, dan suamiku mengiayakan. Alhamdulillah... Aku makin mencoba meyakinkan diriku saat nanti aku swab hasilnya bisa negative. Setelah perjuanganku selama ini berusaha keras minum minyak kayu putihlah, makan bawang putih, minum jamu pahit...

Aku berangkat sendiri ke puskesmas naik motor, pagi itu aku masih beranggapan diriku masih positive Covid-19. Ada terbersit keraguan karena hidung dan tenggorokanku rasanya belum plong. Sampai aku tiba di puskesmas dan menjelaskan kondisiku pada tenaga kesehatan disana. Aku meminta surat kebebasanku, dan pastinya aku ingin yakinkan diriku bahwa aku memang benar2 sudah terbebas dari monster nano itu. Pagi itu deg2an rasanya. Petugas kesehatan mulai menyiapkan alat tes swab antigen untukku. Aku diminta duduk dengan relax. Sudah ketiga kalinya aku menjalani swab... Astaghfirullah...  Benar2 hal yang gak aku sangka sebelumnya...

Setelah swab selesai, aku masih harus sabar menunggu hasilnya terlihat 15 menit kemudian. Sambil bercakap2 dengan petugas kesehatan yang ramah disana. Aku bertanya seandainya hasilnya masih positive, apakah aku masih akan mendapatkan surat kebebasanku atau masih belum lulus karantina, artinya masih harus isolasi mandiri lagi... Sedih rasanya jika hal itu terjadi... Petugas kesehatan mengatakan masih harus isolasi jika memang masih positive. Harap-harap cemas, aku intip hasil testnya terlihat 1 garis, yang artinya kemungkinan negative. Seberkas harapan mulai hangat menyelimuti hatiku pagi itu. Setelah 15 menit, mbak dan bapak tenaga kesehatan yang berada disitu memberitahukan hasilnya kepadaku. Alhamdulillah hasilnya bersih katanya, aku sudah NEGATIVE Covid-19.

Allahu Akbar... Masha Allah... Menetes air mataku saat itu. Hidupku kembali lagi... Alhamdulillah... Tak henti rasa syukurku padaMu ya Allah... Semoga selalu sehat semuanya...

Setelah mendapatkan surat kebebasanku, aku langsung ke rumah ayah ibuku, yang selama berhari-hari sejak aku karantina aku tidak pernah bisa lagi melihat kondisi orangtuaku secara langsung. Ayahku alhamdulillah sudah boleh pulang pada hari Rabu minggu sebelumnya. Kondisi ayahku alhamdulillah sudah jauh lebih baik saat pulang dari RS, meskipun tidak mendapatkan fasilitas swab kedua dari RS saat sebelum pulang untuk memastikan kondisinya sudah negative atau belum. Waktu terakhir aku konsultasi dengan dokter saat itu, beliau mengatakan bahwa ayah pulang dengan kondisi yang sudah membaik secara umum, flek paru2 masih ada karena prosesn pemulihannya lama dan masih bisa menularkan Covid-19 karena itu masih harus melakukan karantina selama 14 hari setelah pulang dari RS. Itu artinya, ibuku yang swabnya negative harus bisa menjaga protokol kesehatan dengan baik selama merawat ayah di rumah. Kami memantau perkembangan kondisi ayah dan ibu lewat grup whatsapp keluarga. Benar2 saat-saat yang sulit karena tak seorangpun dari adik2ku yang semuanya tinggal di luar kota bisa pulang menemani ayah dan ibu di saat2 yang sulit begini karena ada yang sedang hamil, karena izin dari suami, pekerjaan suami, bahkan karena takut tertular Covid-19, dan berbagai alasan lainnya... Aku tidak punya pilihan, hanya bisa hargai apapun alasan mereka.

Sudahlah aku tidak mau membuang energiku dengan hal ini. Aku akan fokus untuk pemulihan kesehatan diriku dan kedua orangtuaku, terutama kondisi ayah yang ternyata beberapa hari masih kambuh demamnya... Sedih rasanya... Pagi itu aku tengok ayahku sedang berjemur di depan rumah, terharu rasanya melihatnya lagi secara langsung... Ibuku menyambutku dan kami langsung berpelukan setelah ibu mengetahui aku sudah negative Covid-19... Aku tak peduli lagi apakah ibu masih negative atau tidak. Bismillah, sehat sehat sehat... Aku masih memakai masker disana. Kami mengobrol tentang banyak hal, menghibur kesepian ayah dan ibu selama ini. Aku sampaikan ke ayah bahwa hari Rabu kami akan mengantar ayah untuk kontrol dan setelah itu ayah akan dibantu melakukan swab oleh puskesmas yang membantuku selama ini. Semoga hasilnya bisa negative dan ayah bisa kembali pulih sembuh bisa beraktivitas seperti sediakala, mohon doanya...

Terimakasih tulusku untuk semua saudara, tetangga, teman2 kerja di SMPN 3 Temanggung dan SMKN Bansari, teman2 kuliahku, dan semuanya yang selama ini memberikan support dan segala bentuk perhatian dan doa untukku dan keluargaku, untuk kesembuhan ayah, semoga doa2 saudara, teman2, Bapak Ibu semuanya diijabah oleh Allah, dan semoga kita semuanya senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup, aaamiiiin...

 



Comments

Popular posts from this blog

Blessings in Disguise (Part 1) - Convincing Myself

Perjalanan itu masih terasa bagaikan mimpi, benar-benar tidak pernah menyangka sebelumnya, Allah mengubah hari saya yang paling menyedihkan pada tanggal 3 Agustus 2021, saat saya harus kehilangan sesosok wanita yang luar biasa, yang telah berjuang melahirkan saya, mengenalkan saya pada dunia, wanita yang dengan lelah dan jerih payah mendidik dan membesarkan saya, seseorang yang paling memahami saya lebih dari siapapun, seseorang yang doa-doanya selama ini sangat berarti untuk kehidupan saya, Mama... seseorang yang ternyata mengantarkan saya untuk menerima kado terindah seumur hidup saya dari Allah pada hari ulang tahun saya pada 26 Juni 2025 lalu. Ya Allah... Subhanallah, walhamdulillah, wala'ilaha'ilallah wallahuakbar... Mohon berikan tempat terindah untuk mamaku Ipah Gamar Binti Hamid Muhammad Alaydrus ya Allah, ampuni segala dosa-dosanya, jauhkanlah beliau dari siksa kubur dan api neraka, terimalah Badal Haji beliau, tempatkan beliau di surgaMu yang terindah ya Allah... Aami...

Blessings in Disguise (Part 2) - The Hardest Part

Makin deg-degan rasanya keberangkatan itu semakin dekat... Banyak persiapan yang sudah saya lakukan, seperti belanja pernak pernik kebutuhan haji, mengambil koper besar dan kecil di PLHUT, mengurus Badal Haji mama, sampai gathering calon jama'ah haji di Magelang. Meski begitu selalu rasanya masih ada saja yang belum atau kurang, mengurus ATM VISA saja juga belum sempat saya lakukan, padahal saya hanya memiliki uang SAR (Riyal) sedikit itupun terima kasih sekali sudah sangat terbantu teman kantor yang orangtuanya tahun lalu pergi haji dan masih mempunyai sisa uang SAR. Dua minggu sebelum keberangkatan, tiba saatnya kami menghadiri manasik terakhir di KBIHU yaitu pelepasan calon jama'ah haji. Disana, kami mendapatkan tanda identitas KBIHU, tanda identitas koper besar dan kecil dengan nama kami, tas ransel, sampai mendaftarkan paket internet untuk selama di tanah suci. Kami berkumpul dengan regu masing-masing untuk berkoordinasi karena kemungkinan kami akan menjadi satu kamar atau...

Life was much easier when Apple and Blackberry were just fruits ;)

Pernah membaca tulisan kocak seperti judul di atas di sebuah sosial media, dan mungkin hal itu tidak berlaku untuk sebagian orang, karena 'buah-buahan' itu sudah menjadi 'passion' mereka :D Tidak usah mengulas panjang lebar tentang buah-buahan itu, cukup konsumsi saja setiap hari untuk 'lebih sehat' pastinya, hehehehe ;) Nah, apa yang terjadi jika 'buah-buahan' itu dan teman-temannya dikonsumsi secara berlebihan? Jawabannya bisa kita lihat, amati dengan santaiiiii di sekitar kita ;) Tengok kanan, tengok kiri, depan dan belakang, apa yang orang-orang pegang di tangannya sehingga mereka lupa di sekitar mereka ada orang yang dekat dan nyata? Dari muda sampai tua semuanya doyan 'buah-buahan' itu, bahkan tanpa dikunyah :D :D Bagaimana mau mengunyah, karena asyiknya sampai kadang lupa waktu, dibuat lumrah sajalah, kita hidup di era digital, di mana setiap orang sekarang tidak bisa hidup tanpa 'buah-buahan' itu... Era komunikasi tela...