Setelah melalui perjalanan panjang menyelesaikan berbagai persiapan sebelum keberangkatan, melewati berbagai ujian kesabaran yang tenyata memberikan banyak sekali hikmah yang luar biasa dalam lebih menguatkan diri saya secara lahir dan batin untuk akhirnya dengan ridhoNya, bisa memenuhi panggilan suci dariNya ke Haramain, ke tanah suci Mekkah Madinah, ke Baitullah...
Ya Allah, mimpikah aku??
Ya Allah... mampukah aku?? 😭😭😭
Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar...
Alhamdulillah... Rasanya hampir tidak percaya Senin sore itu, 26 Mei 2025 saya dan ayah sudah siap berada di dalam bus bersama rombongan calon jama'ah haji Kabupaten Temanggung kloter 86. Saya duduk bersebelahan dengan ayah saya. Kami sudah siap berangkat bersama rombongan 1. Sore itu ada 4 rombongan yang diberangkatkan, dengan masing-masing bus berisi 40 orang calon jama'ah haji yang berasal dari Kabupaten Temanggung, Wonosobo dan Kota Magelang.
Melihat anak-anak saya dari kaca jendela bus, rasanya ingin memeluk mereka lagi dan lagi sebelum berangkat. Doa-doa terbaik terus saya panjatkan untuk anak-anak, keluarga, saudara, sahabat, teman-teman yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, orang-orang baik yang telah memberikan doa-doa dan support yang luar biasa untuk saya dan ayah saya sebelumnya. Tanpa doa-doa dan support dari mereka yang sangat berarti, mungkin hari itu kondisi saya berbeda...
Setelah ceremony singkat pelepasan calon jama'ah haji, bus rombongan saya pertama berangkat, perlahan berjalan keluar dari area pendopo dan alun-alun Temanggung, tangis saya pecah saat mendengarkan lafal talbiyah haji mulai diucapkan bersama-sama di dalam bus, sambil melihat sekeliling bus ramai padat sanak saudara kami yang ikut menyaksikan dan mengantar keberangkatan kami... Ya Allah...
Labbaik Allahumma labbaik... Labbaikala syarika laka labbaik... Innal hamda, wanni'mata, laka wal mulk, la syariikalak...
Bus kami pelan-pelan berangkat menjauh dari kota Temanggung menuju ke Donohudan, Embarkasi Solo. Perjalanan kami selama kurang lebih dua jam dikawal oleh kepolisian dan juga tenaga medis. Sesampainya di Donohudan, kami duduk bersama ratusan calon jama'ah haji disana, mendengarkan pengarahan dan mengantri untuk dipanggil melakukan cek kesehatan lagi, lalu menerima living cost (uang saku) berupa uang SAR, menerima gelang identitas dan paspor masing-masing. Saat itu setelah beberapa jam perjalanan di bus, saya merasa sangat ingin ke toilet, tetapi khawatir terlewat nama saya saat dipanggil, saya hanya memutuskan duduk dulu menunggu panggilan dan kebetulan bertemu dengan beberapa rekan medis yang ternyata adalah orang-orang di masa lalu saya, alias teman-teman lama yang sudah beberapa purnama tidak bertemu, alhamdulillah bisa bersua lagi dan saling mendoakan.
Nama ayah saya sudah dipanggil di awal, saya terpanggil beberapa lama kemudian dan langsung diarahkan untuk tes urin (tes kehamilan), alhamdulillah satu lagi kemudahan dari Allah, padahal saya sangat ingin ke toilet wkwkwk
Setelah itu, saya mengantri menghadap dokter untuk dilakukan pemeriksaan selanjutnya, semua calon jama'ah haji sudah dibekali dengan QR Code yang berisi hasil MCU untuk mengetahui kondisi kesehatan masing-masing. Alhamdulillah setelah semua rangkaian pemeriksaan selesai, saya diarahkan untuk mendapatkan living cost (uang SAR), paspor, gelang identitas dan tas saya ditempel sticker nomor tempat duduk di pesawat. Saat itu saya tidak bertemu orang-orang yang saya kenal, jadi saya langsung menuju ke kamar penginapan di Donohudan untuk meletakkan tas dan koper kecil dan beristirahat. Setelah itu, saya bertemu ayah saya lalu kami menuju ke stand operator provider internet untuk dibantu mengaktifkan paket internet yang sudah saya beli saat manasik terakhir lalu.
Sejak kami tiba di asrama haji Donohudan, adik saya yang tinggal di Solo menelpon kami dan akan menemui kami malam itu juga. Suasana mengharukan saat akhirnya bisa bertemu adik saya dan keluarganya di dekat pos satpam Donohudan, karena kami hanya diizinkan bertemu disana itupun tidak lama. Kami saling berpelukan, tak kuasa menahan air mata haru, kami saling mendoakan dan berfoto bersama sebelum saya dan ayah berangkat ke tanah suci di malam berikutnya.
Malam itu kami menginap di penginapan dengan satu ruangan berisi sepuluh orang calon jama'ah haji. Ada beberapa teman yang berasal dari regu yang sama sehingga sudah saling mengenal sebelumnya. Kami diberi pengarahan bahwa hari berikutnya menjelang keberangkatan jam 2 siang bersiap untuk mandi ihram, memakai pakaian ihram dan niat untuk beribadah haji karena kami akan mengambil miqat berniat haji saat berada di dalam pesawat beberapa menit sebelum sampai ke Bandara King Abdul Aziz Jeddah karena kami berangkat pada gelombang kedua, yang langsung menuju kota suci Mekkah.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya saat itu, antara sudah tidak sabar untuk terbang ke tanah suci, berdebar-debar, bahagia sekaligus ada rasa khawatir yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata. Saya mempunyai banyak sekali dosa Ya Allah... Saya ingin pergi ke tanah suciMu memohon ampunanMu, izinkan saya menikmati beribadah disana, izinkan saya memanjatkan doa-doa di tempat-tempat mustajabMu untuk diri saya, orang-orang yang menyayangi saya dan juga orang-orang yang sudah mendoakan saya, yang juga merindu datang ke Baitullah... 😭😭😭
Sebelum keberangkatan kami masih bisa berjalan-jalan di dalam Asrama Haji Donohudan, dan saya melihat ada bangunan replika Ka'bah yang lumayan besar di dekat masjid. Saya langsung membayangkan Ka'bah, yang sebentar lagi insha Allah akan bisa kami lihat secara langsung, masha Allah... Saat berada di ruang makan asrama haji juga saya melihat televisi besar yang menayangkan YouTube Live Makkah. Saya melihat suasana thawaf di sekitar Ka'bah di Mekkah melalui layar televisi, menetes air mata saya rasanya masih belum percaya sebentar lagi akan kesana bersama dengan ayah...
Setelah mandi ihram, waktu terasa cepat dan setelah Ashar kami berkumpul untuk pengecekan barang bawaan di sebuah ruangan (Muzdalifah) di Asrama Haji Donohudan. Kami duduk per rombongan, dan koper kami diperiksa satu persatu sebelum ke bandara. Di dalam ruangan itu, kami menunggu selama beberapa jam sebelum akhirnya kami berangkat ke bandara Adi Sumarmo Solo. Itu adalah penerbangan pertama saya. Sebelum sampai bandara, saya masih sempat bercanda dan ngobrol dengan adik-adik saya via grup whatsapp sebelum semalam nanti ponsel saya harus mode pesawat.
Setelah semua proses di ruang muzdalifah Asrama Haji Donohudan selesai, kami berangkat naik bus ke bandara Adi Sumarmo setelah Maghrib. Sampai bandara, kamipun masih ada waktu lama untuk menunggu proses keberangkatan. Kami sholat di sebuah mushola yg indah di bandara. Ruang tunggunya sangat bersih dan modern khusus untuk pelayanan haji. Kami sholat jamak Maghrib dan Isyak dulu disana. Dalam perjalanan menuju pesawat, semua yang saya alami dan lihat adalah pengalaman pertama, yang semuanya menakjubkan. Ternyata butuh waktu lama sebelum kami masuk pesawat, padahal hati ini sudah tidak sabar merasakan bagaimana rasanya terbang, melayang ke udara jauh dari permukaan bumi selama berjam-jam perjalanan... Ya Allah 'ndeso' nya saya ya wkwkkw
Selasa 27 Mei 2025 pukul 20.21 WIB kami mulai memasuki pesawat setelah melalui pemeriksaan imigrasi dahulu di bandara dengan menunjukkan paspor dan VISA kami masing-masing. Banyak orang Arab yang bekerja di bagian ini. Vibes tanah suci sudah mulai terasa... Kamipun diarahkan untuk masuk pesawat sesuai dengan nomor kursi masing-masing. Alhamdulillah di perjalanan udara pertama itu, saya bisa duduk di dekat kaca jendela bersebelahan dengan ayah. Malam itu terasa sangat mendebarkan... Saya terus berdzikir dan berdoa memohon keselamatan, kemudahan dan kesehatan untuk kami. Tiba saatnya kami harus berhenti berkomunikasi dengan keluarga untuk mengaktifkan mode pesawat selama dalam perjalanan di udara selama 11 jam. Saya sempat bingung menghitung waktu perjalanan karena ternyata SAR dan WIB selisih 4 jam, lebih awal waktu di tanah air.
Mata saya seperti tak berkedip saat pesawat lepas landas, saya mengamati pemandangan di luar jendela pesawat malam itu sambil terus berdoa, lindungi kami semuanya ya Allah, ridhoi perjalanan kami ke tanah suci... Pesawat berjalan pelan-pelan sampai akhirnya lepas landas dengan cepat melesat ke udara. Pemandangan kerlap kerlip lampu yang terlihat dari samping menjadi semakin kecil berada di bawah... Kami sudah terbang mengudara... Masha Allah...
Selama di pesawat, saya lebih sering menikmati pemandangan dari jendela meskipun hanya terlihat awan gelap dan jika langit cerah bisa melihat bintang-bintang. Perjalanan malam hari memang indah meskipun tidak bisa melihat dengan jelas apa yang kita lewati, apakah daratan atau lautan. Di dalam pesawat, kami mendapatkan 2x kali menu makanan, dengan pilihan yang dapat kita tentukan sendiri melalui beberapa pramugari yang ramah melayani kami. Semua makanan terasa lezat karena badan sehat, alhamdulillah. Ohya, apa kabar kaki saya?
Alhamdulillah selama di asrama haji Donohudan, saya sudah tidak merasakan nyeri di kaki saya, hanya masih ada rasa tidak nyaman karena bekas luka kering. Saya masih membawa salep dan cairan infus untuk membasuh membersihkan luka kering saya. Di pesawat, kaki kanan saya yang ada luka bekas kecelakaan terasa bengkak. Saya mencoba mengubah posisi kaki beberapa kali supaya terasa nyaman di pesawat. Rasa tidak nyaman di kaki tidak terlalu saya rasakan karena terhibur dengan perasaan bahagia naik pesawat menuju ke Haramain... Allahumma sholli'ala Muhammad...
Saat itu sebelum Subuh WAS (Waktu Arab Saudi) pesawat melintas sejajar dengan Yalamlam atau Qarn al-Manazil, kami diarahkan untuk mengambil miqat, yaitu batas waktu dan tempat yang ditentukan dalam ibadah haji dan umrah, di mana jamaah harus memulai ihram dan berniat untuk melaksanakan ibadah tersebut, itulah sebabnya semua jama'ah haji sudah memakai pakaian ihram di pesawat. Sebelum melewati miqat, masih diperbolehkan memakai jaket supaya tidak kedinginan, terutama jama'ah laki-laki. Kami bersama-sama melafalkan niat berhaji lillahi ta'ala. Ya Allah... Berikan kemudahan dan terimalah ibadah haji yang akan kami jalankan... Aamiiin...
Kira-kira kurang dari satu jam kemudian, kami mendengar suara pemberitahuan di pesawat bahwa kami sudah tiba di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Kami masih harus menunggu karena terdengar peringatan untuk tidak melepas sabuk pengaman. Kami dipersilakan untuk sholat Subuh dulu di dalam pesawat dan bersuci dengan tayamum. Pesawat turun pelan-pelan, dan saya sempat mengambil video moment itu... Saya memeluk ayah, sambil menangis bersyukur terharu dan campur aduk rasanya saat itu, "Bah... kita sudah sampai Jeddah, alhamdulillah...", Ayah terlihat bahagia dengan ekspresi terharu, saya kembali teringat almarhumah ibu saya, dalam hati saya berkata, "Mah, Lia sudah hampir sampai Mekkah, mama ada disana kan...", saya berdoa memohon kepada Allah untuk dihadirkan sosok mama di Haramain 😭😭😭
Sesampainya di bandara King Abdul Aziz Jeddah, kami disambut ramah oleh maskapai Saudi Arabia. Harum kasturi mulai terhirup disana. Kami berjalan sambil mengamati pemandangan sekitar bandara, sambil masih terasa mimpi menginjakkan kaki di Saudi Arabia. Lalu kami menuju ke ruangan pemeriksaan koper dan setelah itu naik bus menuju hotel di kota suci Mekkah selama 30 hari disana, masha Allah...
Perjalanan menuju Mekkah dari Jeddah kami tempuh selama sekitar 1 jam lebih pada pukul 8.30 WAS. Bus yang kami naiki berbeda dari bus yang ada di tanah air, driver di sebelah kiri dan ornamen di dalam bus lebih bagus, nyaman dan aman untuk penumpang. Di dalam bus, kami mendapatkan snack box berisi beberapa snack dan coklat kurma khas Arab Saudi juga air mineral dalam botol kecil.
Saat di perjalanan, saya dan ayah menikmati dengan melihat pemandangan di jalanan, jarang sekali melihat pepohonan disana, yang kami lihat adalah perbukitan tandus dan bangunan perkotaan dengan arsitektur khas Saudi Arabia. Saya dan ayah juga sempat tertidur sebentar karena lelah perjalanan di dalam pesawat. Saat kami terbangun, tidak lama kemudian kami melihat Zam Zam Tower dari kejauhan dan semakin dekat. Makin berdebar rasanya saat itu, Ka'bah semakin dekat dan sayapun langsung mengambil ponsel untuk memfoto pemandangan tower dekat Ka'bah itu, yang ternyata saya malah keliru memvideo tapi malah menyesal kenapa tidak saya video agak lama, hehe... Maklum masih setengah sadar, setengah tidak percaya, pokoknya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata perasaan saat itu...
Kami berhenti di wilayah Jarwal kota Mekkah, dimana hotel kami berada. Saat itu kami belum boleh turun karena masih ada pengecekan paspor dan pembagian ID hotel sesuai nama-nama yang telah dipanggil. Setelah semuanya beres, kami diizinkan turun. Kami membawa koper kecil masing-masing dan memasuki hotel Masarat Matsamarah Hotel (hotel 608). Ada sedikit perubahan karena sempat diberitahukan sebelumnya kami berada di hotel Gawharat El Shorouk Hotel (611), sehingga koper besar kami semuanya ada di hotel tersebut. Alhamdulillah kami didampingi oleh seorang ustadz pembimbing ibadah haji yang masih muda, sabar, pandai dan fasih berbahasa Arab sehingga memudahkan kami untuk memahami situasi dan kondisi yang terjadi.
Saya dan beberapa teman satu regu masuk ke dalam lobby hotel 608 dan kami mendapat kamar 503 di lantai 5, sedangkan ayah dan teman-teman beliau di lantai 6 kamar 610, dengan pemandangan jendela yang mengagumkan, view Zam Zam Tower, masha Allah... Hotel kami dekat sekitar 2 km dari Masjidil Haram, seperti dari rumahku sampai CFD, bisa jalan kaki. Alhamdulillah ya Allah...
Bismillah... Mecca, I am coming 😍😍😍
Comments
Post a Comment