Skip to main content

Blessings in Disguise (Part 5) Armuzna

Terimakasih masih membaca sampai part 5 ini, semoga Allah memberikan kesempatan terindah untuk merasakan kenikmatan beribadah di tanah suci suatu saat yang tepat... Merasakan vibes di Mekkah dan Madinah yang penuh keajaiban, aamiiin ya Allah...

Bagian tulisan kali ini bercerita tentang puncak ibadah haji beberapa bulan lalu. Setelah melakukan berbagai persiapan fisik dan mental, tiba saatnya kami melaksanakan rangkaian ibadah yang sangat sakral di tanah suci, yaitu di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). 

Persiapan Armuzna saat itu yang saya abadikan di Google Keep saya:
*Agenda pembekalan Armuzna:*
*A.Optimalisasi pelaksanaan haji sesuai sunnah Nabi*
1. Keutamaan 10 awal dzulhijjah
2. Tata kembali keikhlasan
3. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin: berdoa, berdzikir dll
4. Melatih khusyu'
5. Haji Nabi Muhammad 
*B.Peralatan yang dibawa ketika Armuzna:*
a.*Group:*
1. Pemanas air/rombongan 1 
2. Kabel listrik dan colokan 3 kaki/regu 1
3. Tali tambang/regu 1buat jemuran di tenda mina
4. Alat cukur (bapak2)
b.*Personal:*
1. Baju diminimalkan, untuk 10 tgl 13 pagi (3 stel) perbanyak dalaman, 8 - 10 pagi (baju ihram)
2. Peralatan mandi
3. Sabun cuci  dan hanger (2/3)
4. Peralatan ibadah (bawa sajadah)
5. Lauk tambahan secukupnya
6. Minuman dan gelas
7. Uang secukupnya, 100-200 
8. Tas ransel: Armuzna dan Roudhoh
9. Buku doa/alquran
10. Snack secukupnya
11. Persiapan bila makan terlambat : kurma/energen, dll
12. Tiker/sajadah buat wukuf diluar dan muzdalifah
13. Apd ( Payung, masker, obat,Semprotan air dll)

MEMINIMALKAN BARANG BAWAAN TAPI JGN SAMPAI KEKURANGAN 

C.*Urutan pelaksanaan ibadah haji* 
(Tarwiyah - sunnah)
*a.Tanggal 7 dzul Sore/malam:*
1. Menuju ke Mina naik bus (pada hakekatnya persiapan ke Arafah, mengumpulkan bekal)
2. Niat dari hotel 'Labbaika Allahumma Hajjan'. Ya Allah jadikan hajiku ini tidak ada riya' dan sum'ah. Lalu perbanyak talbiyah sampai melempar jumroh aqobah tgl 10 Dzulhijjah.
3. Tgl 7 Dzulhijjah malam Istirahat, 
4. Sholat di Qoshr tanpa di jamak.
5. Sholat sunnah/nafilah, tdk rawatib, tidak disunnahkan sholat rawatib kecuali qobliyah subuh.

*b.Tanggal 8 Dzulhijjah: hari Tarwiyah* 
1. Sholat lima waktu, di qosor tanpa di jamak
2. Tausiyah dan taklim selepas shalat
3. Baca Qur'an dan dzikir
4. Muhasabah dan taubat
5. Persiapan peralatan untuk wukuf
*c.Tanggal 9 Dzulhijjah: Hari Arafah*
Pakaian dll ditinggal di Mina 
1. Pergi ke Arafah setelah sholat subuh/pagi
2. Persiapan wukuf jam 10.00 (wudhu dan review adab berdoa)
3. Khotbah Arafah jam 12.00-12.15
4. Sholat dhuhur dan Ashar di jamak qoshor 12.15
5. Dzikir dan doa sampai maghrib 12.30-18.55
6. Bersiap menuju Muzdalifah (sesuai jadwal maktab)
7. Sholat maghrib dan isya di jamak qoshr di Muzdalifah 
8. Menginap tanpa harus menghidupkan dg tahajjud kecuali witir
9. Menginap sampai subuh/seoptimal mungkin bila memungkinkan.
*d.Tanggal 10 Dzulhijjah:*
1. Sholat subuh dan berdoa di Muzdalifah 
2. Bersiap ke Mina
3. Melempar jumroh aqobah 7 batu melihat sikon, berharap bisa pagi/sebelum dhuhur, sebelum melempar tdk diperbolehkan ganti baju. Pundak kiri arah Mekkah.
4. Mencukur rambut
5. Thawaf  ifadhoh dan sai ( bagi yang kuat) dan kembali ke Mina setelahnya. 
6. Menyembelih kambing ( sesuai urutan dari pemotongan antara tgl 10-12 dzul)
7. Dzikir dan doa
Rasulullah mengambil kerikil di Muzdalifah/di Arafah.
*e.Tanggal 11-12 Dzulhijjah:*
1. Melempar 3  jumroh @ 7 batu kerikil (21 batu/hari), yg pertama di kanan, kedua kiri, ketiga tidak berdoa.
2. Berdoa pada lemparan 1+2, lemparan 3 tidak berdoa
3. Taubat, dzikir dan doa
*f.Tanggal 13 Dzulhijjah:*
1. Kembali ke hotel setelah sholat subuh/pagi
2. Setelah makan siang bersiap ke Mina
3. Melempar 3  jumroh @ 7 batu kerikil
4. Berdoa pada lemparan 1+2, lemparan 3 tidak berdoa
5. Kembali ke hotel
*g.Tanggal 14 Dzulhijjah:*
1. Thawaf ifadah dan Sai ( malam atau pagi hari melihat sikon). Kalau belum thawaf Ifadah hajinya belum sah.
2. Tidak perlu cukur lagi
Selesai.

Wow... Bismillah... Setelah mencatat semua itu, lalu saya mulai packing dan mengecek barang bawaan ayah saya juga, kasihan kalau terlalu banyak barang yang dibawa tetapi tidak terlalu dibutuhkan di Armuzna. Setelah semua persiapan menuju Armuzna kami lakukan, tiba saatnya kami berangkat menuju Mina bersama rombongan kami. Berdebar rasanya hati ini saat berkumpul di lobby hotel untuk bersiap menjalankan puncak haji. Kami semua berdoa bersama agar diberikan kesehatan, kemudahan dalam menjalankan semua rangkaian ibadah haji disana. Bus kami berangkat langsung menuju Mina, bukan menuju Arafah karena kami berangkat lebih dahulu daripada jamaah haji yang lain, mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, beliau sebelum ke Arafah mencari bekal makanan dan buah-buahan di Mina terlebih dahulu. Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan kami tiba di Mina. Terlihat banyak sekali tenda putih yang bentuknya unik khas Timur Tengah. Di dalam tenda itu saya membayangkan seperti sedang shooting film Aladdin tapi perannya sebagai orang lewat saja 😂😂

Kami berjalan menuju tenda putih itu dan sesampainya di tenda, kami meletakkan barang2 bawaan kami lalu beristirahat. Saya dan ayah masih berada di satu tenda hanya berbeda posisinya dan ada sekat antara laki-laki dan perempuan. Di dalam tenda ada kasur tipis berukuran sebadan untuk masing-masing jamaah haji. Ada blower dan AC pastinya karena suhu disana luar biasa panasnya. Untuk ke toilet alhamdulilah tidak jauh dari tenda. Dekat tenda kami juga tersedia dispenser air dan kulkas air mineral. 

Setiap hari kami mendapatkan makan pagi, siang dan malam yang menunya enak semuanya, buah-buahan segar, roti, bahkan susu UHT coklat yang sangat nikmat rasanya, semuanya melimpah disana dengan mudah kami nikmati, alhamdulilah... Masha Allah... Saat makan dan minum yang enak2 saya selalu teringat anak-anak, ingin sekali saya bawa pulang sebagai oleh2 tapi perjalanan haji masih lama... Padahal makanan dan minuman itu tidak akan tahan lama sampai waktunya saya pulang sebulan kedepan... Yah maklum pikiran emak2... Dan benar saja, saat saya di Madinah menjelang kepulangan, saya membeli susu coklat dan putih kemasan segar, tapi saya salah strategi, malah saya masukkan di koper besar, padahal koper besar berangkat lebih dulu ke tanah air, jadi susunya rusak dan bau, andai saja saya bawa susu itu di tas kecil bersama saat saya pulang 😭😭😭

Suasana di Mina saat kami datang masih sepi dan bersih karena kami datang awal. Antrian toilet juga belum penuh. Disana kegiatan kami memperbanyak berdzikir mengingat Allah, sholat sunnah, membaca Alqur'an, sholat taubat, dan banyak berdoa kepada Allah. Ada kegiatan mendengarkan tausiyah juga yang diisi oleh ustadz pembimbing kami. Beliau benar-benar dengan sabar memberikan kami penguatan, ilmu pengetahuan, arahan, pendampingan, dan semua informasi yang sangat kami butuhkan disana. Sehat selalu pak Mutasim, ustadz idola kami semuanya...

Pagi itu, Kamis tanggal 9 Dzulhijjah tiba saatnya kami semua menuju Arafah. Saat itu semuanya sibuk bersiap, semuanya terlihat bahagia. Namun saya yang saat itu sedang berada di luar tenda bersama teman hanya bisa termenung murung karena pagi itu saya mendapati diri saya haid. Sedih sekali rasanya saat itu, tidak tahu apa yang harus saya lakukan padahal hari itu adalah puncak ibadah haji, wukuf di Arafah. Ya Allah... akankah ibadah haji saya sah jika saya haid? 😭😭😭

Saya langsung menemui ustadz pembimbing yang kebetulan lewat saat itu. Sebenarnya malu rasanya menyampaikan kegalauan hati saya pada beliau, tetapi saya berpikir hal itu bukan suatu aib karena memang fitrah seorang wanita. Alhamdulillah, ustadz langsung memberikan motivasi ke saya, beliau mengatakan, "Tidak perlu berkecil hati, semuanya sah dilakukan, kecuali thawaf dan sholat tentunya."

Allahuakbar... Alhamdulillah terima kasih ya Allah... Bismillah... Saya dan rombongan menuju bus pagi itu untuk ke Arafah. Perjalanan dari Mina ke Arafah saat itu kami tempuh sekitar 40 menitan. Sepanjang jalan, saya selalu menikmati pemandangan yang tidak pernah saya temui di tanah air. Sepanjang jalan kami hanya melihat banyak sekali bukit dan bebatuan. Bangunan-bangunan disana juga khas sekali. Selanjutnya kami melihat ada tenda-tenda putih yang lebih besar dan ada spot-spot tempat duduk, dengan karpet dan rerumputan, pepohonan yang teduh. Langsung terbesit dalam pikiran untuk mencari spot yang paling nyaman untuk berdoa seharian disana saat itu. Ternyata kami sudah tiba di Arafah, alhamdulillah... Kami turun dari bus dan berjalan bersama mencari tenda yang telah disediakan untuk rombongan kami bersama mendengarkan khutbah setelah sholat Dhuhur di Arafah. 

Disana, wajib sekali memakai kacamata hitam dan topi karena sangat silau dan panas sekali cuacanya. Sesampainya di tenda, saya bersama dengan beberapa teman satu regu duduk bersebelahan. Saya duduk di sebelah seorang ibu yang secara fisik agak mirip dengan ibu saya, dan sifat-sifatnya juga banyak kemiripan dengan ibu saya. Beliau sekamar dengan saya di hotel Mekkah, dan selama saya berada disana, saya sering sekali menghabiskan waktu bersama beliau. kami sering meluangkan waktu untuk berlama-lama di mushola hotel, mencoba mengkhatamkan Alqur'an, di sore hari, Maghrib sampai malam setelah sholat Isyak kami ke Masjidil Haram bersama ayah saya dan suami beliau. Di Mina, beliau sering mengajak saya untuk sholat di Masjid Kuwait, sebuah masjid kecil yang indah di Mina. Karpetnya berwarna merah empuk, bersih namun sayangnya sangat dingin AC nya, tapi memang kalau tidak ada AC disana sangat amat panas, jadi saya tidak sesering beliau mengunjungi masjid itu, apalagi saya mendapatkan haid saat di Mina. Kaki beliau sampai melepuh...

Masha Allah, permintaan saya disana sebelum sampai Mekkah, untuk dihadirkan sesosok yang hampir mirip dengan ibu saya, sekedar mengobati rasa kangen saya pada beliau 😭😭😭 Bahkan saat di Arafah, setelah mendengarkan khutbah, saya dan beliau mencari tempat yg nyaman dan teduh di bawah pohon untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah... Kami memiliki waktu sampai Maghrib tiba. Saat itu semua jama'ah melaksanakan sholat dhuhur dan ashar dijamak. Kami benar-benar mengalami peristiwa yang luar biasa disana. Terik matahari sangat terasa panas dengan udara kering. Kami duduk diatas sajadah beralas kardus yang kami gelar dibawah pohon di pinggir jalan. Saya membuka buku bacaan doa-doa yang sudah saya siapkan dari rumah dan juga membaca doa-doa dari saudara, teman-teman yang menitipkan doa. Air mata tak mampu saya bendung saat itu. Terbayang semuanya saat-saat saya bersama ibu dulu, saat ibu bercerita tentang keinginannya berangkat haji, ya Allah... 

Hari itu saya yang menggantikan keberangkatan beliau, tanpa rencana, tanpa persiapan bahkan saya harus mendapatkan ujian kecelakaan dulu sebelum berangkat... Saya juga teringat betapa dulu sering membuat ibu kecewa, marah... Mamah... Seketika saat itu saya langsung berlari ke arah ayah saya yang duduk di belakang, di trotoar bersama teman-teman beliau. Saya menghampiri ayah, duduk di sebelahnya dan langsung meraih tangan kanan beliau dan menangis memohon maaf kepada beliau satu-satunya orangtua kandung saya yang masih ada, ya Allah berilah usia yang panjang dan berkah sehat selalu dan bahagia untuk ayah saya, Aamiin 😭😭😭

Sore itu terasa sangat damai... Karena posisi kami di pinggir jalan saat itu, kami menyaksikan beberapa rombongan jamaah haji dari Nigeria berbondong-bondong menuju ke arah bukit Arafah meskipun cuaca sangat panas, mereka terlihat bersemangat melantunkan talbiyah... Kami juga melihat beberapa mobil ambulans yang mungkin membawa jamaah haji yang tidak memungkinkan untuk melakukan wukuf, yang merupakan syarat sahnya haji. Mereka tetap harus dibawa ke Arafah dalam keadaan apapun... Allahuakbar...

Masha Allah kami sangat bersyukur bisa menikmati suasana saat kami merasa sangat dekat dengan Allah, memohon ampun, menangis, menumpahkan semuanya kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Suasana wukuf di Arafah benar-benar tidak akan terlupakan seumur hidup kami... Ya Allah terimalah permohonan ampun kami, kabulkan doa-doa kami, terimalah ibadah haji kami ya Allah... Aamiin aamiin ya Allah...

Sebelumnya, kami mendengarkan khutbah bersama di tenda besar. Di dalam tenda, tak henti-hentinya kami mendapatkan souvenir, ada payung dan tumbler minuman, paket saus, kecap, minuman sachet (kopi dan teh) beserta sendok dan gelas kaca, juga berbagai jamuan seperti buah-buahan, roti/snack khas Arab, air mineral dan air zam zam, menu makan pagi dan siang, sampai es krim juga tersedia gratis disana. Alhamdulillah... Saya dan ayah sesekali keluar tenda sebelum khutbah dimulai, kami duduk di depan tenda, di bawah pohon sambil menikmati es krim hehehe... karena panas sekali cuacanya sampai 48 derajat celcius... tidak sadar setelah itu malamnya kami batuk, astaghfirullah...

Malam harinya setelah selesai wukuf, kami harus segera ke Muzdalifah untuk mabit tidur di bawah langit terbuka, di lapangan sambil mengumpulkan batu untuk melempar jumroh. Sayangnya bus yang menjemput kami datang menjelang tengah malam, jadi kami sudah tidak memungkinkan untuk turun ke lapangan saat itu karena jalanan macet... Kami terpaksa murur, hanya berada di dalam bus dan pasrah Allah Maha Mengetahui niat kami untuk sholat jamak Maghrib dan isya di Muzdalifah yang terpaksa dilakukan di tenda Arafah. 

Sepanjang perjalanan malam itu kami melihat ribuan jemaah haji menikmati istirahat dibawah langit Muzdalifah, tidur di karpet merah yang terbentang luas di lapangan. Ingin sekali rasanya bergabung. Tetapi Allah sudah punya rencana yang lain. Kami kembali ke Mina untuk menyiapkan diri ke Jamarat pagi harinya. Dini hari sebelum Subuh kami sampai di Mina, beberapa dari kami sempat istirahat tidur meskipun sejenak, lalu terbangun untuk melaksanakan sholat Subuh. Setelah itu, kami beranjak jalan-jalan pagi menuju Jamarat pertama kali bersama rombongan. Langkah kaki ini berjalan menikmati suasana pagi yang masih gelap dan indah dengan cahaya lampu di Mina.  Kami masuk terowongan Mina, saat itu yang terbayang adalah peristiwa tragedi Mina saat saya masih kecil dulu, saya melihat di TV banyak sekali jemaah haji yang meninggal dunia disana. Saya berjalan di samping ayah, kami bergandengan dan terus berdoa sepanjang perjalanan. 

Sepanjang jalan menuju Jamarat, saya terus menggandeng ayah saya untuk merasa lebih aman dan nyaman. Langkah ayah kadang terlalu cepat, bersemangat, padahal jarak yang harus kami tempuh sepanjang kurang lebih 10 km pulang pergi ya Allah... Tidak terbayang sebelumnya, padahal sebelum berangkat kaki saya sempat tidak bisa menapak ke lantai karena kesakitan pasca kecelakaan, Allahuakbar... Selama 4 hari kami harus bolak-balik dari Mina ke Jamarat berjalan kaki, meskipun jarak yang kami tempuh sangat jauh, tetapi ajaibnya langkah kami terasa sangat ringan, meskipun cuaca sangat panas. Di sepanjang terowongan terdengar suara berisik blower pendingin udara, ada eskalator datar juga meskipun tidak panjang, tapi lumayan untuk yang kecapekan bisa memanfaatkan untuk istirahat sambil jalan. Alhamdulillah... 

Sepanjang perjalanan saya mengamati orang-orang dari seluruh penjuru dunia berjalan dengan tujuan yang sama, mereka berjalan dengan penuh semangat, bahkan ada yang didorong menggunakan kursi roda. Di pinggir-pinggir jalan juga tersedia air untuk dapat langsung diminum. Setelah kami sampai ke Jamarot, kami melempar jumroh dengan kerikil yang sudah kami bawa sambil berdoa. Rombongan kami sempat berfoto disana. Setelah itu dalam perjalanan pulang ke tenda Mina, kami berjalan lebih santai, langit senja mulai terlihat indah dengan kerlap kerlip bintang dan lampu-lampu. Pemandangan indah dan romantis... Sesekali saya abadikan moment indah itu di HP saya, sambil menikmati jauhnya jarak yang harus kami tempuh dengan berjalan kaki. Saat di tengah perjalanan, saya sempat terpisah dari ayah saya. Saat itu saya menengok ke sebelah kiri, ada seorang laki-laki yang berjalan di sebelah saya. Saya pikir ayah saya masih di samping saya, hampir saja saya genggam tangannya, ternyata saat saya lirik di samping saya seorang laki-laki seusia saya, wajahnya tampan, bermata biru kehijauan, memakai surban teracotta kombinasi krem di kepalanya, memakai gamis putih tulang. Langkahnya cepat dan hanya beberapa detik sudah berada di depan saya, terus melangkah menjauh. Entah harus istighfar atau malah alhamdulillah ya saat itu wkwkwkk ya Allah, astaghfirullah, subhanallah, masha Allah... Wajahnya mirip Henry Cavill, berjalan di sebelahku 😆

Sesampainya di tenda, kami melanjutkan istirahat disana, rebahan, makan, ngobrol, banyak berdoa, membaca Alqur'an, tapi sayangnya saya tidak bisa mengkhatamkan Alqur'an saat itu... Kegiatan kami selama seminggu di dalam tenda sama, tetapi anehnya sama sekali tidak ada rasa bosan, hanya rasa capek dan agak risih karena saat itu saya sedang haid... Kami sempat berpindah tenda, sempat mencari tenda ayah di sebelah mana tidak bisa menghubungi ayah, pesan tidak dibaca dan susah di telpon...Sempat keliling mencari tenda ayah. Alhamdulillah akhirnya bisa ketemu, ternyata beliau sedang ketiduran, badannya agak demam, kasihan kecapekan... Saya pijit, olesi krim untuk mengatasi pegal di kakinya. Ayah batuk karena makan es krim di Arafah bersama saya, duh... Sayapun juga tumbang mulai flu berat, karena blower AC yang keterlaluan menyembur ke tubuh saya selama tidur di tenda. Menjelang pulang kami pindah tenda lagi dan saya dapat tempat tidur dekat blower. Saya sempat menyendiri di luar tenda sebelum tidur, melihat lalu lalang orang lewat sambilsaya menghangatkan diri membuat minuman panas dan duduk di tepi tenda sendirian menghindari AC 😢

Setelah seminggu di Mina, kami kembali ke hotel. Kami masih kembali ke Jamarat sekali dari Mekkah, tapi saat itu kami naik bus dan tidak terlalu jauh karena kami menuju jalan yang berbeda dari Mekkah. Sore itu sangat cerah dan indah sekali. Alhamdulillah seluruh rangkaian ibadah Armuzna sudah kami jalankan. Tiba saatnya melaksanakan thawaf ifadhah di Mekkah sebagai penutup rangkaian puncak ibadah haji. Saat di Arafah saya sempat meminta untuk bisa segera suci lagi dan melaksanakan rangkaian ibadah secara lengkap dan sempurna, dan alhamdulillah saya bisa melaksanakan thawaf ifadhah bersama rombongan dan ayah saya. Saat itu tubuh saya sangat lemah karena demam karena flu berat. Saya paksakan tubuh ini untuk kuat berjalan mengelilingi Ka'bah, sambil menangis melantunkan doa-doa bersama ayah di samping saya. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata bagaimana perasaan saya saat itu... Allahuakbar... Ya Allah... 

Setelah thawaf, kami sholat sunnah 2 rakaat dan minum air zam-zam, lalu kami mengabadikan suasana di depan Ka'bah... Setelah itu kami melanjutkan dengan sa'i, berjalan bolak-balik antara Safa - Marwa, luar biasa capeknya dengan kondisi tubuh flu berat, demam, rasanya ingin menyerah... Tubuh saya berkeringat dingin, rasanya sangat tidak nyaman terkena suhu AC di Masjidil Haram menggigil apalagi gamis yang saya pakai berbahan crincle yang langsung basah kena keringat. Tapi saya gandeng tangan ayah yang bersemangat, aku harus kuat, bismillah... Penuh perjuangan, memohon kekuatan sama Allah. Akhirnya selesai juga dan kami melanjutkan dengan tahalul. Terima kasih ya Allah... Terimalah ibadah haji kami... Aamiin...  







Comments

Popular posts from this blog

Blessings in Disguise (Part 1) - Convincing Myself

Perjalanan itu masih terasa bagaikan mimpi, benar-benar tidak pernah menyangka sebelumnya, Allah mengubah hari saya yang paling menyedihkan pada tanggal 3 Agustus 2021, saat saya harus kehilangan sesosok wanita yang luar biasa, yang telah berjuang melahirkan saya, mengenalkan saya pada dunia, wanita yang dengan lelah dan jerih payah mendidik dan membesarkan saya, seseorang yang paling memahami saya lebih dari siapapun, seseorang yang doa-doanya selama ini sangat berarti untuk kehidupan saya, Mama... seseorang yang ternyata mengantarkan saya untuk menerima kado terindah seumur hidup saya dari Allah pada hari ulang tahun saya pada 26 Juni 2025 lalu. Ya Allah... Subhanallah, walhamdulillah, wala'ilaha'ilallah wallahuakbar... Mohon berikan tempat terindah untuk mamaku Ipah Gamar Binti Hamid Muhammad Alaydrus ya Allah, ampuni segala dosa-dosanya, jauhkanlah beliau dari siksa kubur dan api neraka, terimalah Badal Haji beliau, tempatkan beliau di surgaMu yang terindah ya Allah... Aami...

Blessings in Disguise (Part 2) - The Hardest Part

Makin deg-degan rasanya keberangkatan itu semakin dekat... Banyak persiapan yang sudah saya lakukan, seperti belanja pernak pernik kebutuhan haji, mengambil koper besar dan kecil di PLHUT, mengurus Badal Haji mama, sampai gathering calon jama'ah haji di Magelang. Meski begitu selalu rasanya masih ada saja yang belum atau kurang, mengurus ATM VISA saja juga belum sempat saya lakukan, padahal saya hanya memiliki uang SAR (Riyal) sedikit itupun terima kasih sekali sudah sangat terbantu teman kantor yang orangtuanya tahun lalu pergi haji dan masih mempunyai sisa uang SAR. Dua minggu sebelum keberangkatan, tiba saatnya kami menghadiri manasik terakhir di KBIHU yaitu pelepasan calon jama'ah haji. Disana, kami mendapatkan tanda identitas KBIHU, tanda identitas koper besar dan kecil dengan nama kami, tas ransel, sampai mendaftarkan paket internet untuk selama di tanah suci. Kami berkumpul dengan regu masing-masing untuk berkoordinasi karena kemungkinan kami akan menjadi satu kamar atau...

Life was much easier when Apple and Blackberry were just fruits ;)

Pernah membaca tulisan kocak seperti judul di atas di sebuah sosial media, dan mungkin hal itu tidak berlaku untuk sebagian orang, karena 'buah-buahan' itu sudah menjadi 'passion' mereka :D Tidak usah mengulas panjang lebar tentang buah-buahan itu, cukup konsumsi saja setiap hari untuk 'lebih sehat' pastinya, hehehehe ;) Nah, apa yang terjadi jika 'buah-buahan' itu dan teman-temannya dikonsumsi secara berlebihan? Jawabannya bisa kita lihat, amati dengan santaiiiii di sekitar kita ;) Tengok kanan, tengok kiri, depan dan belakang, apa yang orang-orang pegang di tangannya sehingga mereka lupa di sekitar mereka ada orang yang dekat dan nyata? Dari muda sampai tua semuanya doyan 'buah-buahan' itu, bahkan tanpa dikunyah :D :D Bagaimana mau mengunyah, karena asyiknya sampai kadang lupa waktu, dibuat lumrah sajalah, kita hidup di era digital, di mana setiap orang sekarang tidak bisa hidup tanpa 'buah-buahan' itu... Era komunikasi tela...