Skip to main content

Belajar Memahami Esensi Menjadi Guru

Tulisan ini saya posting sebagai refleksi diri kita terutama saya sendiri. Saya memilih profesi ini, profesi yang hingga saat ini memberikan kesempatan untuk dapat belajar berbagai hal, betapa profesi menjadi seorang guru adalah profesi yang menantang setelah saya menjalaninya, karena esensi sebenarnya menjadi guru tidak seperti profesi yang lainnya, yang secara profesional mencari penghasilan/profit untuk diri dan keluarganya, dan saya masih sangat jauh dari itu, masih harus banyak belajar memahami esensi menjadi guru yang sebenarnya. Walaupun tidak bisa dipungkiri seorang guru adalah manusia biasa yang juga mempunyai kebutuhan untuk bertahan hidup... Namun profesi guru sejatinya adalah profesi yang berperan menciptakan profesi lainnya, betapa guru sangat berjasa dalam membangun bangsa.

Karena menjadi guru, bukanlah menghadapi benda-benda mati di kantor, menjadi guru menghadapi para calon orang-orang hebat di masa depan... Guru mengukir masa depan...

Kini banyak anak-anak muda yang berjuang berlomba-lomba mengikuti tes untuk menjadi guru. Ada yang memang menjadi guru sudah menjadi cita-cita mereka, dan ada juga yang tertarik karena dengan menjadi guru akan mendapatkan tunjangan penghasilan profesi yang tinggi dari pemerintah, karena kesejahteraan guru sangat dipikirkan oleh negara, demi kemajuan bangsa tentunya... 

'Fenomena' ini makin meningkat dengan adanya tunjangan istimewa untuk para guru dengan berbagai syarat ketat yang justru sebenarnya alih-alih mencerdaskan bangsa, memajukan bangsa, malah mengubah "esensi penghargaan" untuk guru, dan parahnya yang terjadi malah banyak guru yang menjadi kurang bahkan tidak fokus dalam menjalani pekerjaan mereka.

Contoh yang kecil saja, seorang guru yang akan diberikan tunjangan harus mempunyai jam mengajar minimal yang ditentukan, dan tidak semua guru bisa mendapatkan jam sesuai syarat ketentuan tersebut karena jumlah guru mapel tertentu yang mengajar di sekolahnya banyak misalnya, otomatis guru tersebut harus mencari sekolah lain yang bisa menerimanya sekedar untuk menambah jam mengajar untuk kepentingan syarat tadi... Sebagai akibatnya, waktu, tenaga, pikiran terbagi-bagi. Seharusnya dapat mengajar dengan baik, fokus pada satu tempat mengajar, tetapi karena tuntutan persyaratan administrasi demi cairnya tunjangan tersebut, ironisnya, generasi penerus bangsa yang akan menjadi 'korban'nya...

Guru yang sebenarnya bukan guru karier... tapi guru yang sebenarnya adalah guru mengabdi tanpa tanda jasa, dalam jiwanya terdapat keinginan tulus ikhlas untuk memajukan bangsa dengan mendedikasikan waktu, tenaga, pikiran demi anak-anak didiknya... Bahkan dalam agama Islam, guru dalam pekerjaannya yang ikhlas diniatkan ibadah, akan menjadikan amal jariyah (amalan yang tidak akan terputus walaupun kelak sudah meninggal) dan sebaliknya, dapat pula menjadi dosa jariyah jika terpeleset dalam berkata...

Kalaupun ada penghargaan/reward berupa tunjangan, itu adalah ide yang sangat mulia mengingat peran guru yang sangat besar untuk perkembangan bangsa, sebagai reward atas jasa-jasanya, tentunya dengan lebih bijaksana lagi jika segala kebijakan yang berlaku agar tidak menekan, membebani kerja guru, yang sebenarnya waktu untuk mempersiapkan persyaratan pemberkasan administratif dapat mereka gunakan untuk menambah wawasan, ilmu pengetahuan, memikirkan bagaimana bisa lebih kreatif dalam menyampaikan materi kepada siswa-siswa mereka dengan media, metode pembelajaran yang semakin berkembang dari tahun ke tahun. Guru yang baik sebenarnya hanya memikirkan siswa-siswanya, bukan memikirkan karir mereka...

Namun begitu, belum semua guru mendapatkan 'tunjangan istimewa' itu, dan ironisnya, masih banyak guru honorer yang sudah mengabdi selama bertahun-tahun, hingga sudah usia lanjut, dengan gaji yang kurang dari lima ratus ribu rupiah sebulannya, yang masih bekerja dengan beban kerja yang sama dengan guru yg sudah mendapatkan tunjangan istimewa itu...

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya juga belum memenuhi syarat untuk mendapatkan 'reward' tersebut, namun begitu yang terpenting buat saya adalah bagaimana memahami esensi menjadi guru yang sebenarnya, yang bilamana reward belum ataupun telah diberikan, segepok amanah tetap melekat pada seorang guru yang sebenarnya...

Pernah membaca tulisan ini "I am a teacher, I change the world"


Menarik memang untuk bisa mengubah dunia menjadi lebih baik, tetapi semudah itukah mengubah dunia, semudah itukah menjadi seorang guru?
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Gaji yang Anda terima dari mengajar mungkin sangat kecil dan mungkin kurang untuk memenuhi kebutuhan. Tetapi bagaimanapun juga Anda telah membuat perubahan pada dunia khususnya kehidupan siswa Anda. Untuk menjadi guru yang sebenarnya bukanlah jenis pekerjaan seperti halnya dapat di raih dengan cara biasa (melamar pekerjaan). Mengajar adalah bakat, kemampuan dan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang guru yang sebenarnya.

Siapapun bisa menghabiskan 4 tahun di perguruan tinggi dan melamar menjadi guru. Tetapi tidak semua orang bisa menjari guru yang luar biasa, menjadi teladan, dan menjadi mentor yang baik untuk siswanya. Berikut adalah arti sebenarnya menjadi seorang guru. Apakah Anda salah satunya?

1. Role Model

Siswa di dalam kelas akan selalu melihat kepada guru mereka. Guru yang sebenarnya akan cenderung memberi inspirasi pada siswanya dan akan ditiru oleh murid-muridnya. Seorang guru seharusnya dapat menunjukkan apa yang diajarkannya. Dan juga menunjukkan antusiasme terhadap topik yang diajarkannya jika ingin siswanya melakukan hal yang sama. Jika seorang guru mengajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, ya jangan lah kamu membuang sampah sembarangan.

2. Pribadi yang Positif:

Menjadi guru haruslah bersikap dan berfikir positif. Tidaklah selalu mudah untuk menjadi positif bahkan akan lebih sulit saat pekerjaan Anda adalah guru. Bagaimana saat Anak didik Anda selalu bermasalah, saat Anda tidak bisa membuat anak didik anda mengerti tentang materi yang diajarkan atau saat mereka gagal. Dorong anak murid Anda untuk berjuang. Kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.

Seorang guru pun harus meningalkan masalah negatif pribadi ataupun keluarganya. Dengan bersikap positif tentu murid pun akan bersikap positif. Tidak ada kan orang yang ingin berada disekitar orang-orang yang selalu berpikir negatif?

3. Bersemangat

Pernah mendengar saat upacara sekolah misalnya ketika ada seseorang yang batuk kemudian diikuti dengan batuk lainnya. Atau ketika kita berkumpul bersama teman dan teman kita tertawa kita tanpa sengaja akan tersenyum walaupun tidak mengetahui dimana letak lucunya. Semangat pun seperti itu. Sifat semangat itu menular. Jika guru tidak antusias dengan materi yang dia ajarkan, jangan harap siswa berniat untuk menerima dengan baik apa yang diajarkan kepadanya.

4. Storyteller

Menjadi guru berarti harus menjadi pendongeng yang baik. Orang sangat suka mendengarkan kisah-kisah nyata dan hal tersebut membuat kelas menarik dan menyenangkan. Guru yang baik cenderung menceritakan kisah-kisah pribadi yang nyata terkait dengan konsep dari materi yang diajarkan.

5. Pembangun Relasi yang Baik

Ya, menjadi guru bukan hanya sekedar memberikan bahan/materi saja. Dengan menjadi guru artinya kamu harus berelasi dengan murid-murid Anda. Guru yang sukses adalah guru yang mampu membangun jembatan antara guru dan murid. Guru yang sukses adalah guru yang dipercaya oleh murid-muridnya. Murid sangat menikmati kelas-kelas mereka. Tidak ada yang mengeluh jika guru seperti itu memberikan pekerjaan rumah. Dengan membangun relasi yang baik antara guru-murid akan tercipta suasana/lingkungan yang baik untuk belajar.

Pada akhirnya, pekerjaan guru adalah pekerjaan yang menantang. Menjadi guru haruslah memiliki kualifikasi dan motivasi tertentu agar dapat menjadi panutan dan mentor yang ideal bagi siswa dan siswinya. Mudah-mudahan artikel ini dapat berguna bagi para guru di Indonesia.

Sumber: http://ikelas.com/artikel-pendidikan/tips-mengajar/38/arti-sebenarnya-menjadi-seorang-guru

Semuanya bermuara untuk generasi penerus, demi bangsa yang lebih baik di masa depan... Aamiiiin


Comments

Popular posts from this blog

Blessings in Disguise (Part 1) - Convincing Myself

Perjalanan itu masih terasa bagaikan mimpi, benar-benar tidak pernah menyangka sebelumnya, Allah mengubah hari saya yang paling menyedihkan pada tanggal 3 Agustus 2021, saat saya harus kehilangan sesosok wanita yang luar biasa, yang telah berjuang melahirkan saya, mengenalkan saya pada dunia, wanita yang dengan lelah dan jerih payah mendidik dan membesarkan saya, seseorang yang paling memahami saya lebih dari siapapun, seseorang yang doa-doanya selama ini sangat berarti untuk kehidupan saya, Mama... seseorang yang ternyata mengantarkan saya untuk menerima kado terindah seumur hidup saya dari Allah pada hari ulang tahun saya pada 26 Juni 2025 lalu. Ya Allah... Subhanallah, walhamdulillah, wala'ilaha'ilallah wallahuakbar... Mohon berikan tempat terindah untuk mamaku Ipah Gamar Binti Hamid Muhammad Alaydrus ya Allah, ampuni segala dosa-dosanya, jauhkanlah beliau dari siksa kubur dan api neraka, terimalah Badal Haji beliau, tempatkan beliau di surgaMu yang terindah ya Allah... Aami...

Blessings in Disguise (Part 2) - The Hardest Part

Makin deg-degan rasanya keberangkatan itu semakin dekat... Banyak persiapan yang sudah saya lakukan, seperti belanja pernak pernik kebutuhan haji, mengambil koper besar dan kecil di PLHUT, mengurus Badal Haji mama, sampai gathering calon jama'ah haji di Magelang. Meski begitu selalu rasanya masih ada saja yang belum atau kurang, mengurus ATM VISA saja juga belum sempat saya lakukan, padahal saya hanya memiliki uang SAR (Riyal) sedikit itupun terima kasih sekali sudah sangat terbantu teman kantor yang orangtuanya tahun lalu pergi haji dan masih mempunyai sisa uang SAR. Dua minggu sebelum keberangkatan, tiba saatnya kami menghadiri manasik terakhir di KBIHU yaitu pelepasan calon jama'ah haji. Disana, kami mendapatkan tanda identitas KBIHU, tanda identitas koper besar dan kecil dengan nama kami, tas ransel, sampai mendaftarkan paket internet untuk selama di tanah suci. Kami berkumpul dengan regu masing-masing untuk berkoordinasi karena kemungkinan kami akan menjadi satu kamar atau...

Life was much easier when Apple and Blackberry were just fruits ;)

Pernah membaca tulisan kocak seperti judul di atas di sebuah sosial media, dan mungkin hal itu tidak berlaku untuk sebagian orang, karena 'buah-buahan' itu sudah menjadi 'passion' mereka :D Tidak usah mengulas panjang lebar tentang buah-buahan itu, cukup konsumsi saja setiap hari untuk 'lebih sehat' pastinya, hehehehe ;) Nah, apa yang terjadi jika 'buah-buahan' itu dan teman-temannya dikonsumsi secara berlebihan? Jawabannya bisa kita lihat, amati dengan santaiiiii di sekitar kita ;) Tengok kanan, tengok kiri, depan dan belakang, apa yang orang-orang pegang di tangannya sehingga mereka lupa di sekitar mereka ada orang yang dekat dan nyata? Dari muda sampai tua semuanya doyan 'buah-buahan' itu, bahkan tanpa dikunyah :D :D Bagaimana mau mengunyah, karena asyiknya sampai kadang lupa waktu, dibuat lumrah sajalah, kita hidup di era digital, di mana setiap orang sekarang tidak bisa hidup tanpa 'buah-buahan' itu... Era komunikasi tela...