Skip to main content

Day 29 - Dopamine -

Tak sengaja mata lupa berkedip ketika melihat dua orang siswi SMA yang sedang mengantri membeli nasi uduk bersama saya di pinggir jalan. Sekilas memang pemandangan seperti itu banyak ditemui dimana-mana zaman sekarang ini. Dua gadis itu berseragam, dengan ciri khas rok diatas mata kaki, lengan baju dilipat, bibir berlip gloss merona, bulu mata bermascara dan alis yang dilukis layaknya emak-emak akan pergi ke pesta. Apakah saya yang sudah jadul ketinggalan zaman sehingga tidak mewajarkan pemandangan seperti itu, atau mereka yang ingin terlihat lebih dewasa entah apa alasannya. Rasanya tergelitik untuk sejenak berpikir bahwa usia mereka masih belasan tahun namun sudah terampil bermake up sehari-hari layaknya seorang karyawati. Apapun alasannya, sebenarnya saya tak mau ambil pusing. Terlepas dari bagaimana kehidupan persekolahan mereka, bagaimana mereka memprioritaskan tujuan belajar saat pergi ke sekolah dan berada di kelas, bagaimana mereka memiliki rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan saat belajar di sekolah, dengan berdandan setiap hari di usia sekolah apakah tidak membuat kulit mereka lebih cepat menua dan bermasalah dengan percobaan berbagai make up di kulit wajah mereka yang sebenarnya masih sangat bagus dan kencang? Ah, dunia memang penuh ironi, saat emak-emak ingin terlihat lebih muda, sementara anak-anak muda malah ingin terlihat lebih dewasa (baca: tua). Terlihat cantik memang merupakan sebuah kebahagiaan bagi seorang perempuan. Mempercantik diri adalah salah satu cara untuk menghargai diri sendiri yang akan meningkatkan kadar hormon dopamine sehingga kita merasa bahagia. Namun definisi cantik tentunya akan sangat subjektif. Pun begitu, akan menjadi objektif ketika standar kecantikan itu adalah pada bagaimana kita bersyukur dengan menghargai diri, merawat diri dan tidak merusak anugerah yang sudah dimiliki dari Tuhan, karena pada dasarnya setiap perempuan itu cantik sesuai dengan usianya. @30haribercerita #30hbc2529rapel

Comments

Popular posts from this blog

Blessings in Disguise (Part 1) - Convincing Myself

Perjalanan itu masih terasa bagaikan mimpi, benar-benar tidak pernah menyangka sebelumnya, Allah mengubah hari saya yang paling menyedihkan pada tanggal 3 Agustus 2021, saat saya harus kehilangan sesosok wanita yang luar biasa, yang telah berjuang melahirkan saya, mengenalkan saya pada dunia, wanita yang dengan lelah dan jerih payah mendidik dan membesarkan saya, seseorang yang paling memahami saya lebih dari siapapun, seseorang yang doa-doanya selama ini sangat berarti untuk kehidupan saya, Mama... seseorang yang ternyata mengantarkan saya untuk menerima kado terindah seumur hidup saya dari Allah pada hari ulang tahun saya pada 26 Juni 2025 lalu. Ya Allah... Subhanallah, walhamdulillah, wala'ilaha'ilallah wallahuakbar... Mohon berikan tempat terindah untuk mamaku Ipah Gamar Binti Hamid Muhammad Alaydrus ya Allah, ampuni segala dosa-dosanya, jauhkanlah beliau dari siksa kubur dan api neraka, terimalah Badal Haji beliau, tempatkan beliau di surgaMu yang terindah ya Allah... Aami...

Blessings in Disguise (Part 2) - The Hardest Part

Makin deg-degan rasanya keberangkatan itu semakin dekat... Banyak persiapan yang sudah saya lakukan, seperti belanja pernak pernik kebutuhan haji, mengambil koper besar dan kecil di PLHUT, mengurus Badal Haji mama, sampai gathering calon jama'ah haji di Magelang. Meski begitu selalu rasanya masih ada saja yang belum atau kurang, mengurus ATM VISA saja juga belum sempat saya lakukan, padahal saya hanya memiliki uang SAR (Riyal) sedikit itupun terima kasih sekali sudah sangat terbantu teman kantor yang orangtuanya tahun lalu pergi haji dan masih mempunyai sisa uang SAR. Dua minggu sebelum keberangkatan, tiba saatnya kami menghadiri manasik terakhir di KBIHU yaitu pelepasan calon jama'ah haji. Disana, kami mendapatkan tanda identitas KBIHU, tanda identitas koper besar dan kecil dengan nama kami, tas ransel, sampai mendaftarkan paket internet untuk selama di tanah suci. Kami berkumpul dengan regu masing-masing untuk berkoordinasi karena kemungkinan kami akan menjadi satu kamar atau...

Life was much easier when Apple and Blackberry were just fruits ;)

Pernah membaca tulisan kocak seperti judul di atas di sebuah sosial media, dan mungkin hal itu tidak berlaku untuk sebagian orang, karena 'buah-buahan' itu sudah menjadi 'passion' mereka :D Tidak usah mengulas panjang lebar tentang buah-buahan itu, cukup konsumsi saja setiap hari untuk 'lebih sehat' pastinya, hehehehe ;) Nah, apa yang terjadi jika 'buah-buahan' itu dan teman-temannya dikonsumsi secara berlebihan? Jawabannya bisa kita lihat, amati dengan santaiiiii di sekitar kita ;) Tengok kanan, tengok kiri, depan dan belakang, apa yang orang-orang pegang di tangannya sehingga mereka lupa di sekitar mereka ada orang yang dekat dan nyata? Dari muda sampai tua semuanya doyan 'buah-buahan' itu, bahkan tanpa dikunyah :D :D Bagaimana mau mengunyah, karena asyiknya sampai kadang lupa waktu, dibuat lumrah sajalah, kita hidup di era digital, di mana setiap orang sekarang tidak bisa hidup tanpa 'buah-buahan' itu... Era komunikasi tela...